andRyans webblog


Review Piaggio Liberty 150ie (2011)

Akhirnya setelah 2 bulan berjuang menjual Satria F 200cc DOHC dan MIO Soul terwujud juga atas keinginan punya motor  brand Piaggio Liberty 150ie :)

So langsung aja kita bahas Fitur dan Hasil review dari motor ini.

MESIN

  • Jenis : 4 Langkah, single cylinder, 2 valve
  • Transmisi : CVT Otomatis
  • Pengapian : Injeksi, 28mm (injektor tunggal)
  • Bore x Stroke: 62,8mm x 48,6 mm = 149,5cc
  • Kompresi: 10.6
  • Daya max : 8,6 KW/8000 rpm
  • Torsi max : 11,2 Nm/ 6.250 rpm
  • Busi: NGK CR7EB, DENSO U24ESRNB
  • Pendingin : udara
  • Kapasitas Aki: tipe kering 6A
  • Kelistrikan: DC
  • Emisi : EURO 3
  • Kapasitar Oli: 1.2L

SUSPENSI

  • Depan: Garpu Teleskopis Hidrolik dengan peredam kejut (30mm)
  • Belakang: Peredam kejut double acting, 4 setting adjustable

REM

  • Depan : Cakram (dual piston), 240mm
  • Belakang : Tromol, 140mm

RODA

  • Depan : Velg CW palang 10, Ban Tubeless 80/90 – 15″
  • Belakang : Velg CW palang 10, Ban Tubeless 100/80 – 14″

DIMENSI

  • Panjang : 1.930 mm
  • Lebar : 705 mm
  • Jarak Sumbu Roda : 1.325 mm
  • Jarak terendah : 118 mm
  • Berat kosong/isi : 114 / 119 kg

LAIN-LAIN

  • Kapasitas Tangki BBM : 7 Ltr, cadangan: 1.5 liter
  • Bagasi : lumayan besar tapi tidak cukup untuk menyimpan helm
  • Pilihan warna : Nero Vulcano (hitam), Bianco Perla (putih), Midnight Blue (biru tua), Celeste Glamour (biru muda), krem
  • Fitur Unik : Imobilizer
  • Lampu: Halogen 35w HS1

Langsung aja saya ulas plus minus dari motor ini:

PLUS

  • Posisi Riding cukup nyaman pas sekali dengan postur saya 169cm
  • Emisi Euro 3 dan sistem injeksi tentunya akan membuat motor ini ramah lingkungan dan irit dari segi konsumsi bahan bakar, saya test jarak 70km menghabiskan uang sebesar 15.000 untuk pertamax. Isi tangki 7 liter rasanya pas sehingga tidak perlu bolak balik ke POM bensin
  • Imobilizer. Artinya walau kunci di duplikasi motor tidak akan hidup, bisa hidup asal di set terlebih dahulu dengan kunci master (warna coklat)
  • Power dan Torsi motor terasa sekali rasanya cukup untuk kondisi jalan di JABODETABEK, walau tarikan awal terasa berat namun saat speedometer menyentuh angka 30kpj keatas terasa enteng.
  • Lampu sudah mengaplikasikan Halogen HS-1 tentunya membuat lampu lebih terang dari pada lampu yang digunakan motor biasa, dan adanya tombol DIM. saya masih mencari informasi apakah kelistrikan Piaggio Liberty ini menganut AC atau DC, jika sudah menganut DC wahhh mantap untuk pasang HID ga bakal tekor Aki :)

  • Baut-baut diseluruh body sudah menggunakan baut L, dibanding baut biasa gampang slek :p
  • Bagasi lumayan besar di balik jok pengemudi dan adanya bagasi tambahan di depan walau ukuran kecil cukuplah untuk menaruh barang seperti dompet, hp

  • Suspensi depan dan belakang terasa empuk sekali, nyaman untuk melahap jalan yang jelek
  • Velg 15″ depan dan 14″ belakang di dukung lebarnya velg sehingga bisa mengaplikasikan ban yang lebih besar :)
  • Kualitas cat OK
  • Finishing & krepresisian body OK
  • Model Spion Classic berbahan chrome, pas sekali tidak terlalu besar maupun kecil
  • Kaliper rem depan (double piston) rasanya sama seperti pada motor umumnya, sehingga memudahkan pergantian kanvas rem. rasanya cocok dengan motor: Suzuki (spt: satria f, smash, skywave, thunder), Honda (spt: tiger, supra x), Kawasaki (spt: ninja 150, ninja 250). Rem depan dan belakang terasa pakem :)

MINUS

  • Jok pengemudi terasa keras sekali, apa karena busanya tipis ya?
  • Klakson bawaan kurang kencang bunyi nya di banding dengan motor matic lainnya
  • Ketersediaan fast moving parts belum teruji?
  • Aksesoris karena motor embel-embel Italy harganya cukup mahal
  • Spakbor depan tipis sekali bahannya apa ini di sengaja apabila membentur tidak akan pecah?
  • Tidak adanya dudukan plat nomor belakang (option) sayang sekali ini membuat tampilan belakang jadi minus
  • Penggunaan velg 15 (depan) pilihan ban sangat terbatas

Finally dengan mengeluarkan kocek 23.900.000 (OTR Jakarta per Feb 2012) rasanya sebanding dengan apa yang kita dapatkan :)

About these ads

8 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Pantas kah Saya Membayar Mahal?
Jumat hari ini (4 April) sudah lebih dari 3 minggu Piaggio saya berada di bengkel. Tetap saja tidak sekalipun ada informasi dari pihak dealer tentang nasib saya. Saya kembali menengok, hasilnya seperti saya duga, tidak ada perkembangan sama sekali. Pihak bengkel hanya memberi kabar peleg yang rusak tidak bisa diganti karena sudah dibubut. Ujungnya, pasti saya harus mengeluarkan duit sekitar 900 ribu untuk membeli peleg.
Pertanyaannya, pantas kah saya membayar mahal untuk after sales service yang sedemikian amburadul? Apakah Piaggio tidak berfikir kerugian konsumen ketika motor begitu lama nangkring tanpa kejelasan? Apakah konsumen tidak bnutuh riwa-riwi ngantar anak sekolah, untuk kerja dll? Juga untuk bolak-balik ngencek ke bengkel hanya sekadar menanyakan nasib motornya?
Pihak Piaggio tidak mau mengganti peleg dengan alasan sudah dibubut? Pertanyaannya, apakah kalau saya membawa motor ke bengkel, apakah bisa dilayani dalam satu dua hari? Kasus sebelumnya hampir tiga minggu? Sekarang kalau pertanyaannya di balik, mengapa piaggio memasang peleg dengan kualitas sangat rendah, dan kemudian menimbulkan konsumennya celaka, apakah piaggio bertanggung jawab?
Kedatangan saya ke dealer Vespa di Kebayoran Lama kini kian meyakinkan saya bahwa konsumen hanya boleh tersenyum sekali saat baru beli motor.(!)

Komentar oleh alex

Jebakan After Sales
Saya baru menyadari arti pentingya after sales. Orang memilih membeli motor seperti Honda atau Yamaha, karena bengkel ada dimana-mana, bengkel kecil pun sudah biasa, dan onderdil pun ada dimana. Satu lagi harga murah, dan ada KW-nya lagi.
Common rasionality itu sementara saya singkirkan ketika memutuskan membeli Piaggio. Saya mencoba membeli motor yang lebih menantang: tidak sekedar untuk aktivitas sehari-hari, tapi juga untuk aksi. Apalagi sekelas Piaggio, dengan brand danpositioning yang tidak lagi meragukan. Saya juga percaya dengan kelas yang dibidik serta banyak komunitas penghobi membuat after sales-nya sudah otomatis menjadi perhatian.
Tapi ternyata, persepsi saya salah kaprah. Selama berurusan dengan persoalan after sales, saya sama sekali tidak pernah menemukan responsivitas, baik dari sisi customer relationship management maupun supplay chain management. Semaunya lelet, menjengkelkan, dan merugikan.
Dan selama dua tahun lebih saya berurusan dengan silih- ganti masalah onderdil berkualitas rendah yang dibenamkan pada Piaggio milik saya, tidak ada upaya perbaikan sama sekali.Piaggio tidak memikirkan nasib pelanggan. Sebaliknya, hanya berfikir dagangan laku, dan bahkan berfikir bagaimana bisa bisa terus-menerus mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pelanggan.
Apa yang saya sampaikan bukan provokasi, tapi dari fakta dan pengalaman yang saya alami. Saklar saya rusak ternyata tidak ada gantinya, terpaksa saya harus beli sendiri; pergantian peleg berkualita rendah harus menunggu sampai 15 hari dengan alasan diimpor dari Vietnam.
Dan kasus terbaru, untuk menggantikan peleg belakang yang juga hancur dan packing top -yang harus diganti karena mur kenalpot putus di dalam- saya harus menunggu entah sampai kapan karena bengkel resmi tidak bisa memberi kepastian. Yang kian menjengkelkan, walaupun motor sudah sembilan hari di bengkel, sama sekali tidak ada konfirmasi dari pihak bengkel.
Entah apa susahnya hanya untuk sekedar menelpon dan memberi informasi bahwa motor belum bisa diperbaiki karena onderdil belum ada.Bisa dibayangkan, berapa kerugian material karena motor tidak digunakan untuk aktivitas sehari-hari dalam jangka waktu yang cukup lama.
Dengan munculnya masalah karena kualitas onderdil yang sangat asal-asalan, saya bahkan merasa adanya jebakan after sales. Bagaimana tidak, untuk mengganti ban dengan spek ukuran yang sangat langka, kita mau tidak mau harus membeli di bengkel resmi dengan harga mahal (informasinya Rp400 ribu). Jika pelg motor rusak, seperti saya alami, kita sudah pasti tidak ada pilihan selain membeli dengan harga Rp900 ribu. Bandingkan dengan layanan dan harga onderil pabrikan besar pada kelas motor sama, seperti Honda Vario.
Mungkin wajar kalau onderdil yang kita beli benar-benar berkualitas Eropa, dimana Piaggio berasal. Tapi faktanya, onderdil yang dibenamkan di Piaggio low class quality. Bisa dipastikan konsumen akan berkali-kali karena harus berurusan dengan law class service dan harus kembali terjerembab dalam jebakan after sales.
Dengan pengalaman ini, kiranya masyarakat untuk berfikir seribu kali untuk membeli motor Piaggio. Boro-boro untuk tujuan koleksi, motor ini sama sekali tidak bisa dinikmati. Pengalaman ini saya sampaikan agar masyarakat tidak terjebak menjadi keledai yang jatuh di kubangan persoalan yang sama.(*)

Komentar oleh alex

To all: Sebelum beli…baca dulu deh gua punya pengalaman:
Menyesal Berat Beli Piaggio
Siapa tidak tahu merk Vespa atau Piaggio? Hampir dipastikan semua orang Indonesia tahu karena motor pabrikan Italia itu sudah begitu melegenda dan menjadi salah satu the most wanted untuk dikoleksi. Karena itu tidak heran, Vespa atau Piaggo di era tujuh puluhan masih banyak melenggang kangkung, bukan hanya karena desain klasiknya yang lekang oleh jaman, tapi juga mesinnya yang terkenal bandel. Motor yang terlihat ‘rongsokan’ pun masih kuat diinjak, termasuk naik turun pegunungan.
Brand Vespa dan Piaggio yang kuat dan positioning sebagai klasik nan tangguh itulah membuat saya tanpa pikir panjang memutuskan membeli Piaggio 125 CC dengan harga sekitar Rp16 juta di dealer Vespa-Piaggio di Jl Kebayoran Lama secara cash. Saya tidak mempedulikan meski tidak mendapatkan jaket, walaupun sebenarnya masuk paket dan dijanjikan dealer.
Saat itu saya hanya membayangkan membeli Piaggio bukan hanya untuk aktivitas kerja sehari-hari, tapi juga agar bisa bergaya retro. Saya juga membayangkan akan bisa menikmati motor ini hingga masa tua dan kemudian kelak mewariskannya kepada anak-anak.
Tetapi ternyata itu hanya imaginasi saja. Begitu motor dikirim, silih berganti masih langsung terjadi. Awalnya, motor sering tiba-tiba mati, seperti saat di tengah kemacetan atau waktu mengisi bensin. Setelah dicek, ditemukan masalah pada saklar. Dugaan awal, pemasangan saklar kurang rapat. Tapi ternyata masalah tersebut masih terus terjadi. Bayangkan ketika di tengah jalan dan motor mati, saya –termasuk istri saya- harus repot-repot membuka kap depan untuk mengotak-atik saklar.
Sekitar satu bulan kemudian baru terungkap daya saklar terlalu kecil dan tidak sesuai dengan spek. Hal ini diketahui oleh bengkel resmi setelah diketahui saklar. Terpaksa saya beli saklar baru, dengan menggunakan uang sendiri meski motor masih bergaransi. Masalahnya, bagaimana pabrikan bisa teledor memasang suatu perangkat yang tidak sesuai spek-nya? Saat itu saya berfikir, mungkin ini karena kelalaian teknisi.
Tak lama kemudian, masalah datang lagi. Motor jalannya goyang. Saya berfikir pasti laker-nya. Setelah dibawa ke bengkel umum, diketahui ternyata as peleg depan sudah aus. Bengkel tidak berani membawa ke bubut karena bahannya dari alumunium sangat sulit dibubut. Saya pun kemudian komplain ke dealer resmi dan diganti karena memang masih bergaransi. Saat itu pihak bengkel mengakui bahan yang lama jelek, dan peleg baru lebih baik.
Tetapi, belum menikmati kenyamanan, satu masalah lagi datang. En tah kenapa, roda depan menggelembung. Posisinya tepat di tengah, memanjang hingga 20 centi meter. Mulai saat itu lah saya berfikir tentang produk seperti apakah yang dijual. Apa yang saya alami adalah fakta bahwa brand yang begitu kuat ternyata mengelabuhi. Saya merasa positioning Piaggio yang menancap kuat di alam bawah sadar saya hanyalah ilusi. Entah karena dibuat di Vietnam –saya juga berfikir onderdil made in China- jauh dari ekpektasi saya.
Karena itulah satu memutuskan membeli ban tidak di dealer, meskikpun harus montang-manting karena spek sangat langkah. Saya baru menemukan di pusat onderdil di Kebon Jeruk.Walaupun harganya tinggi, sekitar Rp300 ribu, saya membeli karena lebih murah dibanding di dealer resmi.
Hingga satu tahun beberapa bulan mempunyai Piaggio, saya tidak pernah merasakan nikmatinya berkendara. Dan yang membuat hati semakin terluka, kini ganti peleg roda belakang yang goyang. Ikhtiar saya beberapa kali membawa ke bubut ternyata tidak berhasil, dan peleg goyang. Bahkan, mur knalpot patah di depan hingga saya harus kembali ke bengkel resmi karena untuk membongkar harus mengganti top packing.
Terus terang, saya menyesal berat beli Piaggio. Sama sekali tidak ada kekuatan dan kenyamanan motor berkelas Eropa ini. Sama sekali tidak ada bukti Piaggio adalah motor battle proven, seperti para sesepuhnya. Sama sekali tidak muncul customer satisfaciton pada kualitasnya. (*)

Komentar oleh alex

piaggio memang lebih baik

Komentar oleh vespa

kepalang nanggung gan jual satria + soul.. pa gak mending buat beli lx taw s skalian neh… liberty.. dohh.. he..he..

lam scoteris

Komentar oleh scoteris aja

@roman. pasti penunggang FU yeh hehehe
Kalo dibandingin sama FU mah beda genre bro, yang ini dibeli untuk model dan kenyamanan, sedangkan FU untuk speed dan manuver..

Btw ane pengguna Vario 125 spertinya performa mesin dari spek ga beda jauh yah. ada yang pernah bandingin ngga?

Itu velg liberty masuk gak ya di vario 125, spertinya keren kalo velg depan lebih gede gitu hehehe

Komentar oleh John Van Dafuq

@roman: speed bukan jadi patokan, kenyamanan lebih mahal daripada speed. apalagi speed + nyaman lebih mahal lagi

Komentar oleh andryans

harganya mengalahkan FU…
Speednya gimana tuh??
Ngalahin fu juga???

Komentar oleh roman




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: